"Simurgh", Raja di Hati Rakyat


Attar Neisyaburi, seorang sufi dari tanah Persia mempunyai satu risalah sastra yang berjudul "Mantiqut Thayr" yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "musyawarah burung". Dalam kitabnya itu Attar berkisah tentang para burung yang mendambakan seorang raja. Mereka menginginkan sosok yang bisa memimpin mereka, mengayomi dan melindungi mereka, yang bisa ditaati, didengarkan perintah-perintahnya demi meraih kebahagiaan serta kesempurnaan para burung.

Hudhud, salah satu begawan para burung mengatakan bahwa raja itu ada. Namanya adalah Simurgh. Sang raja bersinggasana di puncak gunung "Qaf" dan untuk sampai ke sana harus melewati tujuh lembah yang penuh dengan rintangan dan tantangan serta ujian yang sangat berat. "Kalau ingin bertemu dengan Simurgh, mari kita terbang ke sana", kata Hudhud.

Para burung berbondong-bondong berangkat menuju gunung Qaf nun jauh di sana. Ratusan burung terbang bersama. Mereka tiba di lembah pertama. Berbagai kesulitan menantang mereka sebagai ujian seberapa keteguhan mereka dalam mendambakan seorang pemimpin dan seberapa siapkah mereka menghadapi setiap rintangan demi rintangan hingga sampai ke tujuan. Banyak yang tak kuasa menghadapi angin dan badai di lembah pertama ini hingga akhirnya terpisah dari rombongan. Banyak pula yang dari awal merasa takut dan memutuskan untuk kembali.

Para burung yang lolos kini tiba di lembah berikutnya. Mereka memutuskan untuk lebih peduli terhadap sesama kawan, tolong menolong dan saling mengasihi satu sama lain agar semuanya bisa melewati. Mereka harus merapatkan barisan agar rombongan tetap utuh. Namun begitu, banyak yang tidak tahan dengan gesekan dan benturan yang terjadi hingga beberapa burung tercecer. Ada pula yang memilih berhenti terbang.

Para burung yang masih tangguh sampai di lembah ketiga. Ternyata rasa peduli itu membutuhkan kecerdasan dalam bersikap. Mereka pun berusaha untuk lebih jeli dalam meneruskan perjalanan. Setiap kepakan sayap harus benar-benar diamati. Perlu kecermatan yang lebih dalam melihat keadaan serta hubungan antar burung satu sama lain. Tetapi ternyata banyak juga yang teledor. Berpuluh-puluh burung gugur di lembah itu.

Para burung yang lolos merasa bahwa ada kemungkinan para burung yang melanjutkan perjalanan ini masih mempunyai ketergantungan terhadap hal-hal di luar urusan perjalanan menuju gunung Qaf ini. Masih ada kepentingan-kepentingan pribadi. Maka di lembah yang berikutnya mereka berusaha untuk melepas segala keinginan dan kepentingan. Tidak boleh ada ganjalan kekhawatiran tentang rumah, maupun angan-angan tentang kedudukan si sisi sang raja nanti. Akan tetapi, banyak juga yang tidak bisa melakukan hal itu. Puluhan burung dinyatakan gugur dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Sampailah mereka di lembah yang kelima. Untuk melewati rintangan yang ada, para burung itu mempererat persatuan. Mereka manunggal. Mereka yang bisa melepaskan kepentingan-kepentingan di lembah sebelumnya tadi berhasil mensucikan diri sehingga benar-benar menyatu. Dengan itu rintangan demi rintangan di lembah ini bisa dihadapi bersama. Dari ratusan burung yang berangkat awal tadi, jumlah mereka tinggal sedikit.

Di lembah keenam rintangan berupa keterpanaan. Banyak hal-hal menakjubkan yang membuat mereka terheran-heran. Mereka dibuat terlena oleh keindahan dan kemegahan yang tersaji di lembah tersebut. Kebersatuan yang lebih erat sejak lembah sebelumnya tadi pun bagi mereka sangat mengherankan. Lembah ini benar-benar membuat mereka terpana. Namun mereka tetap harus terbang.

Akhirnya mereka di lembah terakhir. Jumlah yang cuma puluhan itu adalah para burung yang telah teruji. Mereka berhasil melewati segala rintangan di setiap lembah yang dilewati dan persatuan yang kokoh di antara mereka hingga membuat masing-masing tidak bisa merasakan keberadaan diri sendiri. Mereka seperti sirna dalam diri mereka sendiri. Mereka merasa tidak ada.

Sampailah mereka di puncak gunung Qaf. Jumlah mereka tinggal 30. Kerinduan kepada sang raja telah memuncak dan ini saatnya berjumpa. Namun alangkah kagetnya ketika ternyata di puncak gunung Qaf itu tidak ada siapa-siapa. Tidak ada sosok Simurgh yang diceritakan Hudhud. Mereka pun jadi bingung.

Hudhud mengatakan bahwa memang Simurgh itu tidak ada di sini. "Tetapi Simurgh itu ada di hati kalian", ucapnya. "Ketika kalian berhasil melewati tujuh lembah dengan segala halangan dan rintangannya, ketika kalian teguh menjadi diri sendiri, ketika kalian peduli satu sama lain, saling mengasihi satu sama lain, ketika kalian benar-benar manunggal, ketika kalian melebur dalam kasih sayang antar sesama hingga tidak merasakan derita sendiri. Kalian sendirilah Simurgh itu. Hakikat kepemimpinan adalah ketika hati kalian menyatu. Pemimpin yang sejati itu adalah hati nurani kalian sendiri, adalah diri kalian sendiri. Hanya saja kalian harus melewati tujuh lembah itu agar kalian menjadi diri kalian sendiri.

Dalam bahasa Persia 'Simurgh' terdiri dari dua kata 'si' artinya tiga puluh dan 'murgh' berarti burung. Ternyata Simurgh adalah kebersamaan dari 30 burung yang berhasil melewati tujuh lembah dan sampai ke gunung Qaf. Tujuh lembah itu adalah; damba, cinta, ma'rifat, "istighna" (melepas keinginan), kemanunggalan, keterpanaan, dan yang terakhir adalah lembah fana atau kesirnaan diri. Begitu kiranya kisah yang diceritakan Attar Neisyaburi.

Bangsa ini juga mendambakan sosok seorang pemimpin untuk lima tahun yang akan datang. Perjalanan telah berakhir dan kita telah melewati beberapa lembah hingga sampai di puncaknya yang berlangsung beberapa hari lalu. Sosok yang kita dambakan itu pelan-pelan akan menampakkan diri.

Namun kita perlu hati-hati. Jangan-jangan kisah kita berlawanan dengan kisah para burung yang disebut Attar tadi. Kita perlu mawas diri, apakah kita bisa sampai di tahapan ini karena hati kita telah menyatu atau justru tercerai-berai? kalau para burung tadi adalah rakyat yang manunggal dan nyawiji, lalu di puncak gunung Qaf mereka tidak menemukan raja tetapi raja itu ditemukan di dalam hati mereka sendiri, Jangan-jangan kita merasa telah melewati tahapan-tahapan hingga sampai puncaknya lalu kita menemukan seseorang sebagai pemimpin tetapi pemimpin sejati di dalam hati kita belum terketemukan.

Betapa sia-sia perjalanan kita bila Simurgh telah kita temukan, namun ternyata 'si murgh' itu hilang, rasa kebersamaan itu hilang, kasih sayang dan kepedulian antar sesama hilang, ma'rifat kita hilang, sikap kita dipenuhi tunggangan kepentingan-kepentingan, dan puncaknya kita kehilangan jati diri kita sendiri sementara itu kita bergembira karena ada sosok yang sudah kita temukan. Simurgh itu sudah kita temukan tetapi garuda tidak di dada.

Ammar Abdillah, penulis buku Semalam Cinta Hadir; Sekumpulan Kata

logoblog
Newest
You are reading the newest post

No comments:

Post a Comment