Yang Maha Membaca (Antologi Puisi)

 

Apsas (Apresiasi Seni Sastra) merupakan konsep pentas seni yang berbeda, terkadang spontan, tak direncanakan, dan hampir selalu berangkat dari kegelisahan mendadak. Tidak jarang dimulai duduk diskusi tiba-tiba bergerak untuk mendisain “panggung”. Kain-kain tipis berwarna hitam atau merah mereka ambil. Proses dekorasi “panggung” terlalu antusias. Masing-masing tergerak untuk menambah bagian-bagian yang diperlukan suka-suka.

Apsas tampaknya telah menjadi cara hidup pegiat RBK (Rumah Baca Komunitas). Melewati diskusi yang panjang terkadang membuat mereka tergelitik untuk membuat manifestasinya lewat seni, sastra, atau tampilan budaya. Apa yang disebut sebagai “panggung” dalam Apsas pun sebenarnya terdiri atas satu kursi, beberapa kain yang disulap menjadi latar, dan lampu dengan cahaya kuning. Kadang-kadang juga meja disulap menjadi tempat duduk. Hal itu menjadikan panggung seperti “milik bersama”, itu yang memunculkan istilah “berkreasi suka-suka”. Para pegiat juga mempersiapkan puisi untuk pentas, dan kamera sebagai salah-satu alat penting untuk mengabadikan proses unik tersebut.

Melalui Apsas, RBK menuju jembatan perjuangan yang lain. Kesadaran bahwa manusia membutuhkan seni, menjadi jalan pegiat RBK untuk mengapresiasi alam semesta. “Kita tidak bisa mencintai manusia jika tidak mencintai alam”. Melalui seni pegiat RBK diajak untuk sensitif terhadap rasa kemanusiaan mereka. Saat membaca puisi Wiji Thukul, WS Rendra, Taufik Ismail. Atau saat menikmati novel Pramoedya Ananta Toer, Hamka, Luis Sepulveda.

Belantara kehidupan manusia dan alam seperti terhampar serta menggugah kesadaran. Kesadaran terhadap perbaikan relasi antara manusia dan alam seperti terbuka dengan sendirinya. Perlahan tapi pasti, seperti melibatkan alam semesta dalam setiap horison pemikiran lalu muncullah istilah Ekoliterasi.
logoblog
Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment