Menerbitkan Kisah Perjuangan Bisnis

Seorang teman bertemu di sebuah toko buku. Sebut saja namanya Rozak. Sudah beberapa tahun kami tak pernah bertemu. Aku kira dia sudah tidak di kota yang sama. Dia sedang mencari buku-buku yang bergenre kisah perjuangan. Lama sekali dia mencari tema yang pas dan pantas dengan kisah yang akan ditulisnya. Cerita ini aku ketahui dari istrinya, yang sebelumnya sudah bertemu denganku di pasar tradisional, saat aku mencari tanaman serai untuk obat reumatik seorang teman. Karena penasaran dengan semangat pencarian Rozak, aku mencoba mendekatinya lagi, dan menanyakan tentang buku-buku yang dicari.

“Aku mencari buku yang menceritakan tentang kisah perjuangan, terutama yang berkaitan dengan perjuangan mendirikan kerajaan bisnis,” jawab Rozak yang tidak menutupi keinginannya.

“Wah, rupanya kamu sudah mencapai sukses ya? Selamat ya!” Aku pun mengulurkan untuk menjabat tangannya.

“He…, he…, bukan aku yang telah sukses, Kawan!” Jawab Rozak sambil memegang pundakku, “Aku hanya mau membantu kawan kita, Si Amru, yang kini tinggal di Kalimantan. Dia telah sukses mengembangkan bisnisnya, yang dia lakukan sejak masih kuliah dulu. Aku diminta olehnya untuk menuliskan kisah perjuangannya dalam membangun kerajaan bisnisnya.”

“Lho, berarti aku salah paham dengan ucapan istrimu. Aku bertemu dengan istrimu di pasar tadi pagi. Aku kira, kamu akan menulis kisah bisnismu sendiri,” aku mencoba meyakinkan diri.

“Wah, aku tidak berbakat menjadi pengusaha, Kawan. Aku hanya penulis lepas di beberapa penerbit, dan kadang-kadang di surat kabar,” Rozak mencoba merendah.

“Ah…, itu sangat istimewa, Kawan. Aku justru tak mampu menjalankan tugas seberat itu. Aku hanya membuka usaha penerbitan kecil-kecilan di rumah. Kalau ada waktu, mainlah ke rumah,” ajakku kepada Rozak.

“Baiklah, aku pasti akan datang ke rumahmu. Sekalian mau minta tolong terbitkan buku Amru yang sedang proses penyelesaian ini,” Rozak memperlihatkan sebuah print out naskah mentah.

“Oke, siap! Aku tunggu kau di rumah, kapan saja! Kau bisa hubungi aku di sini,” jawabku, sambil menyodorkan kartu nama kepada Rozak.

Hampir dua minggu kemudian, Rozak pun datang ke rumah. Dia menyodorkan file naskah yang dijanjikan kepadaku, dan memintaku mengurus semua kebutuhan penerbitan buku itu. Ternyata, beberapa menit kemudian, Bos Amru menelponku, menanyakan berapa dana yang dibutuhkan untuk menerbitkan buku tersebut. Kami pun membicarakan hal itu secara kekeluargaan dan didengar langsung oleh Rozak, si penulis yang juga dijanjikan honor oleh Bos Amru.
logoblog
Previous
« Prev Post