Menerbitkan Buku Sendiri Modal Nekat


Tahukah kamu, saat ini pekerjaan menulis telah menjadi satu budaya yang menggejala di berbagai usia dan daerah. Memunculnya gejala ini telah memotivasi masyarakat, terkhusus kalangan anak muda, untuk menciptakan tulisan yang kreatif dan variatif. Salah satu cara untuk menggeliatkan hobi menulis itu adalah lahirnya berbagai lembaga yang menawarkan kursus menulis kreatif atau membentuk komunitas menulis, baik secara offline maupun online. Tanpa ragu, sebagian dari mereka telah menawarkan kurikulum secara profesional dan memungut bayaran yang lumayan mahal bagi kalangan tertentu. Setidaknya, usaha pelatihan dan kursus menulis itu saat ini dapat dijadikan sebagai usaha meraup keuntungan atau  semacam bisnis kreatif baru.

Kita patut gembira atau justru masih merasa bersedih dengan adanya fenomena ini? Tergantung kamu dalam melihatnya. Yang jelas, gairah menulis di kalangan anak muda telah menggelora, seakan tak terbendung oleh perubahan sistem pemilihan langsung maupun tidak langsung kepala daerah yang baru-baru ini menjadi konsumsi publik. Para penulis muda berbakat kini banyak bermunculan, seperti jamur di musim hujan yang menyegarkan dapur ibu-ibu penggemar cipta kuliner. Ini bisa kita anggap sebagai optimisme yang positif bagi perbukuan di negeri yang entah sampai kapan berhenti berbenah. Seriring hal itu, kita perlu perhatikan juga tentang keberanian menerbitkan buku sendiri dan mendirikan penerbit sendiri. Banyak sekali penerbit indie yang bermunculan, bahkan menerbitkan buku kini tak harus dicetak massal dengan oplah (oplagh) yang memberatkan kantong. Kamu kini sangat bisa menerbitkan buku dengan oplah minim yang biasa disebut dengan model Publishing on Demand (PoD). Setelah itu, istilah Self Publishing dan Publishing on Demand pun mendadak tenar-populer.

Beberapa informasi yang beredar di kalangan pelaku perbukuan di Yogyakarta mengatakan bahwa bisnis kreatif perbukuan kini telah menjadi semacam tren baru yang membanggakan. Di Yogyakarta sendiri, dari data yang diperoleh dari beberapa sumber, ada sekitar lebih dari 500 penerbit, baik yang telah berbadan hukum maupun belum. Bahkan, pengalaman salah satu penerbit baru di Yogyakarta menyatakan bahwa pengurusan ISBN di Perpustakaan Nasional RI sempat terhambat sekitar seminggu untuk nomor penerbit Yogyakarta yang baru.

Dari beberapa pengalaman yang ada menunjukkan bahwa perkembangan bisnis kreatif perbukuan di Yogyakarta boleh dikatakan sangat sangat pesat dan melejit. Oleh karena itu, kamu tidak perlu kecil hati jika memiliki keinginan untuk menerbitkan buku sendiri. Kamu tinggal menyiapkan naskah dan berbagai keperluannya, lalu pilih penerbit yang menawarkan model menerbitkan buku sendiri atau cobalah bertanya kepada mereka yang memiliki pengalaman tentang menerbitkan buku sendiri.

Apablika kamu ingin mengetahui perkembangan perbukuan atau berbagai informasi berkait dengan perbukuan atau menerbitkan buku sendiri, silakan googling berbagai Tips dan Cara Menerbitkan Buku Sendiri. Atau kamu bisa mencari kata kunci lain yang kira-kira bisa membantu menambah pengetahuan kamu. Tidak perlu ragu atau takut mencoba. Cukup yakinkan diri bahwa segala kesuksesan itu bermula dari pendahuluan yang kecil. Setiap ribuan langkah yang ditempuh itu memerlukan setapak-dua tapak untuk memulainya. Kita semua bisa menerbitkan buku sendiri, yakinlah!
logoblog
Previous
« Prev Post