Menerbitkan Buku dari Artikel Koran


Di dunia tulis-menulis, artikel koran tentu sangat dikenal secara akrab, sebab setiap hari selalu tersaji secara intensif beberapa artikel di surat kabar yang terbit harian. Akan tetapi, tidak semua orang mengatahui bahwa banyak buku lahir dari kumpulan artikel seorang penulis yang memberanikan diri menyulap kepingan-kepingan kliping tulisannya menjadi sebuah buku. Usaha menerbitkan buku dari berbagai tulisan yang pernah dimuat di surat kabar bakan sesuatu yang baru.

Banyak penulis terkenal yang hampir kebanyakan bukunya berasal dari kliping koran berbentuk esai atau opini. Sebagai contoh saja, teman-teman tentu telah mengenal akrab buku-buku almarhum Prof. Kuntowijoyo yang kebanyakan adalah kumpulan tulisan beliau dari berbagai surat kabar. Tentu saja, buku-buku tersebut berisi artikel-artikel yang memiliki kesamaan tema, bahkan terkadang memiliki hubungan kelanjutan dari artikel sebelumnya, sesuai dengan konteks lahirnya tulisan tersebut. Selain dari berbagai surat kabar, terkadang tulisan-tulisan dalam buku-buku beliau juga berasal dari jurnal dan makalah yang pernah dipresentasikan di luar negeri, maupun dalam acara bertarap nasional di negeri sendiri: Indonesia.

Contoh lain yang lebih fenomenal adalah buku-buku Maulana Muhammad Ainun Najib, atau yang akrab dipanggil Emha Ainun Najib alias Cak Nun. Buku-buku beliau kebanyakan berasal dari tulisan-tulisan yang pernah dimuat di surat kabar, lalu dikliping dan diedit atau disunting ulang oleh Pak Totok Raharjo, sahabat setianya, untuk kemudian diterbitkan secara massal. Ada sekitar lima puluh judul lebih buku yang pernah diterbitkan Cak Nun, sungguh sangat fenomenal. Dan, kebanyakan berasal dari kumpulan artikel-artikel yang pernah dimuat di koran, majalah, atau di media masa yang lain.

Tahukah teman-teman? Buku-buku dari kedua tokoh yang kami sebut di depan, ternyata memiliki pasar sendiri. Dengan kalimat lain, mereka memiliki penggemar sendiri, yang cenderung sangat simpatik dengan tulisan-tulisan kedua tokoh tersebut. Salah satu buku almarhum Kuntowijoyo yang pernah menjadi favorit dan fenomenal adalah Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, terbitan Mizan sekitar 1991, sedangkan buku Cak Nun yang sempat fenomenal adalah Markesot dan Markesot Bertutur Lagi, juga terbitan Mizan, dan saat ini telah diterbitkan ulang juga.

Melihat kisah tersebut, tentu kita bisa mengambil pelajaran bahwa sesungguhnya menerbitkan buku tidak harus menulis buku secara utuh, tetapi bisa berupa kumpulan tulisan atau artikel. Sebab, terkadang, menulis buku secara utuh memerlukan nafas yang sangat panjang, meskipun banyak juga teman-teman yang justru lebih menyukai menulis buku secara utuh ketimbang artikel, sebab ruangnya lebih longgar. Apabila teman-teman memiliki banyak kumpulan artikel atau berbagai makalah yang dianggap perlu dipublikasikan, sebaiknya segera menempuh jalur menerbitkan buku sendiri, agar lebih mudah tercapai. Sebab, tidak semua penerbit mau menerbitkan buku berbentuk kumpulan artikel, kecuali penulisnya sudah memiliki nama besar di dunia media massa.

Kami siap membantu teman-teman yang ingin menerbitkan buku dari kumpulan artikel atau makalah. Tentu saja dengan ketentuan-ketentuan yang bisa dibicarakan secara professional.
logoblog
Previous
« Prev Post