Senang Berdiskusi, Penulis Semakin Produktif

Sebagian penulis pemula tidak menyukai kegiatan berdiskusi. Sebab, diskusi dianggap menghabiskan waktu, hanya bicara tidak bekerja. Anggapan tersebut ada benarnya. Akan tetapi, seorang penulis yang ingin memiliki khasanah atau wawasan lebih luas tentang realitas membutuhkan sudut pandang lain terhadap sebuah masalah. Sesungguhnya, suka berdiskusi membantu kita untuk melihat sebuah masalah dari berbagai sudut pandang pemikiran, sehingga tidak berkutat di dalam sebuah subyektivitas yang pekat dan gelap.



Dalam dunia kepenulisan, subyektivitas memiliki kecenderungan menutup diri berempati kepada orang lain. Sifat semacam itu tentu akan membebani seorang penulis karena memasukkan otak ke dalam tempurung. Dari berbagai pengalaman penulis besar, ternyata karya yang meledak di pasaran adalah tulisan berbentuk refleksi atas empatinya terhadap seseorang atau kepada suatu keadaan. Kita bisa membaca tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib, budayawan besar yang selalu menuangkan empatinya kepada komunitas atau rakyat di berbagai sudut Indonesia dalam analisis tajam dan solutif. Tak diragukan lagi, beliau adalah orang yang memiliki perhatian besar terhadap masyarakat kecil. Beliau selalu menyempatkan diri berdiskusi dengan orang-orang yang dicintainya itu meskipun dalam waktu yang sempit.

Akan tetapi, masih banyak juga orang yang tidak mengenal lebih dekat Emha Ainun Nadjib, dan hanya beranggapan bahwa beliau hanya melakukan pengajian ke mana-mana bersama Kiai Kanjeng. Bagi yang tidak pernah mengikuti pengajiannya, biasa disebut Maiyahan, tentu tidak mengetahui bahwa audiens diajak berdiskusi secara serius tentang permasalahan kemanusiaan dan kehidupan di dunia maupun menabung amal untuk akhirat. Dari diskusi-diskusi kecil tersebut, banyak anggota Jama’ah Maiyah yang terinspirasi untuk menuangkan dalam bentuk tulisan yang kritis dan menginspirasi diri untuk mengeluarkan potensi masing-masing.

Berdiskusi tentu sebuah kegiatan yang sulit bagi seorang pendiam. Namun, perlu kita sadari bahwa berdiskusi tidak harus banyak bicara. Dengan mendengarkan pendapat orang dan mencoba ikut memikirkannya sudah membuat kita lebih tahu tentang berbagai hal yang terkadang tidak terpikirkan.

Sebagai tawaran konkret, kita bisa mendiskusikan tulisan sendiri atau karya-karya orang lain sebagai pembanding, sehingga mendapatkan gambaran di mana letak kelebihan dan kekurangan sendiri. Kegiatan berdiskusi tentu saja tidak harus dilakukan secara formal. Kita cukup mengajak beberapa teman untuk duduk santai membahas berbagai hal yang ada di sekitar kita atau dengan cara menentukan tema-tema tertentu yang sedang hangat dibicarakan oleh media.

Terakhir, niat untuk menyukai diskusi harus kita semangati dengan lebih banyak membaca, baik buku maupun mencari informasi di media. Hal ini akan merangsang kita untuk membicarakan berbagai informasi yang kita tahu dan yang diketahui orang lain secara bersama atau saling melengkapi.
logoblog
Previous
« Prev Post