Ingin Awet Muda dan Sehat, Menulislah!

Siapa yang percaya dengan judul di atas? Awet muda dan sehat, selama ini, kita pahami sebagai akibat dari budaya sehat dan perilaku sehari-hari. Jika tidak, berkaitan dengan jamu dan obat-obatan yang memiliki kemampuan meningkatkan stamina tubuh. Lalu, mengapa sekarang kita membahas masalah menulis, awet muda, dan sehat? Penjelasan seperti apa yang sesungguhnya mampu kita pahami untuk mempercayai keterkaitan tersebut?


Kesehatan yang kita maksud di sini, sesungguhnya tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga sehat jiwa. Kisah seorang novelis dan veteran Perang Vietnam bernama John Mulligan dapat kita jadikan sebagai bukti kecil di luar pengalaman penulis lainnya. Pengalaman berdarah di Vietnam itu telah mengakibatkan trauma yang mendalam baginya, jiwanya terluka dan merasa hampa. Bahkan, pasca perang yang biasa disebut Perang Indochina itu, selama enam tahun, ia menjadi gelandangan di North Beach, San Fransisco.

Akan tetapi, di luar logika, setelah John Mulligan mengikuti workshop tentang keterampilan menulis yang diadakan Maxine Hong Kingston, hidupnya mulai berubah. Awalnya, trauma Perang Vietnam yang menghantuinya mulai memudar. Selanjutnya, bahkan paradigma berpikirnya mulai berubah tidak seperti sebelumnya. Ia pun mulai merasakan kehidupannya yang baru, dan mengaku segera mengawali usaha menulis sepulang dari workshop itu untuk mengungkapkan semua perasaannya. Tak disangka, ternyata usahanya menulis itu telah meringankan, bahkan menghilangkan stress, kekusutan pikiran, dan beban hidupnya.

Usaha menulis yang dilakukan John Mulligan ternyata bukan hanya menyehatkan jiwanya, tetapi juga menghasilkan sebuah karya sastra, novel berjudul Shopping Cart Soldiers. Semenjak itu, ia meyakini bahwa menulis mampu menyehatkan dirinya, dan berkata, “Menulis menghindarkan saya dari kegelapan hidup!”

Pengalaman John Mulligan ternyata dibenarkan oleh para peneliti dengan membuktikannya melalui riset tentang pengaruh menulis terhadap kejiwaan seseorang. Seorang guru besar psikologi University of Texas bernama Dr. James Pennebaker menyatakan, “Puluhan studi telah menemukan bukti bahwa banyak orang merasa lebih sehat dan bahagia setelah menuliskan kenangan-kenangan yang traumatisnya.” Kesimpulan tersebut diambil dari berbagai penelitian dan salah satu risetnya yang bertema, “Penerjemahan Pengalaman (pahit) ke Dalam Bahasa Akan Mengubah Cara Orang Berpikir Mengenai Pengalaman Itu”.

Dr. James Pennebaker pernah mempublikasikan satu risetnya dalam Journal of Consulting and Clinical Psychology (April 1998), yang membuktikan bahwa sel-sel T-limfosit para mahasiswa menjadi lebih aktif enam pekan setelah mereka menulis peristiwa-peristiwa yang menekan (membuat depresi). Hal ini menunjukkan bahwa setelah melakukan pekerjaan menulis, stimulasi sistem kekebalan mulai muncul.

Bahkan, sekitar 1990-an, Dr. James W. Pennebaker pernah menulis dan menerbitkan buku berjudul Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions, yaitu sebuah hasil penelitian selama 15 tahun tentang pengaruh membuka diri terhadap kesehatan fisik. Buku tersebut banyak menjelaskan tentang bukti bahwa menulis menjernihkan pikiran, menulis mengatasi trauma, menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, menulis membantu memecahkan masalah, dan menulis-bebas membantu kita ketika terpaksa harus menulis.

Dalam studi lain, yang dipublikasikan dalam Journal of The American Medical Association (14 April 1999), menyatakan bahwa menulis, secara ekspresif, mampu meringankan gejala asma dan rheumatoid arthritis. Dalam jurnal tersebut juga dijelaskan bahwa orang-orang yang pernah mengikuti pelatihan menulis memiliki kecenderungan lebih jarang mengunjungi dokter, bekerja lebih baik dalam tugas sehari-hari, dan memperoleh skor yang lebih tinggi dalam uji psikologi.

Bahkan, seorang pemikir perempuan dari Maroko, Fatima Mernissi, mengungkapkan bahwa menulis itu menyehatkan, bahkan membuat awet muda. Dalam pengakuannya, jika setiap hari kita menulis, kulit kita menjadi tetap segar. Jika hobi menulis dilakukan setiap hari, misalnya saat bangun tidur langsung menulis, aktivitas sel dalam tubuh akan segera meningkat. Coretan pertama yang ditorehkan di atas kertas kosong mampu melenyapkan kantung di bawah mata dan kulit akan terasa segar kembali. Begitulah pengakuannya.

Semua pengalaman dan penelitian yang diutarakan di atas mungkin saja dialami oleh para penulis lain. Teman-teman mungkin bisa mencoba mengamati kehidupan dan usia para penulis yang pernah lahir di sekitar kita, di Indonesia. Atau, teman-teman ingin membuktikan sendiri kebenaran tentang menulis yang menyehatkan jiwa dan raga. Wallahu a'lam.
logoblog
Previous
« Prev Post