Percayalah, Siapa pun Bisa Jadi Penulis!

Kemampuan menulis bukanlah sebuah bakat khusus yang dimiliki oleh seseorang. Maksudnya, kemahiran seseorang dalam menulis bukanlah bakat yang telah menempel sejak lahir pada seseorang. Jadi, kepiawaian seseorang dalam merangkai kalimat tidak ada hubungannya dengan teori psikologi yang biasa dikenal dengan faktor hereditas, yaitu bakat bawaan sejak lahir. Akan tetapi, jika Anda memiliki keyakinan bahwa faktor hereditas itu wajib bagi kemampuan menulis, kami sarankan untuk menghentikan membaca tulisan ini.

Dalam pengalaman kami, seseorang penulis selalu memiliki jejak sejarah belajar “menulis”. Proses belajar, berani mencoba dan tidak takut salah—trial and error—adalah modal awal para penulis, baik yang baru populer maupun penulis ternama yang telah melambung namanya sejak lama. Oleh karena itu, jika Anda memiliki niat untuk menjadi penulis, tanamkanlah keyakinan dalam hati bahwa menjadi penulis itu membutuhkan proses yang kontinyu, tidak ada kaitannya dengan faktor bawaan.


Akan tetapi, jika Anda memaksa kami untuk tetap mempercayai faktor hereditas, tak jadi masalah. Kami pun akan membolehkan Anda untuk meyakininya, tetapi dengan model pemikiran dan konsep yang lain. Ya, bagi kami, setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi penulis. Potensi tersebut harus digali dengan proses yang memerlukan waktu dan tenaga tertentu (berbeda) bagi setiap orang, sehingga muncul ke permukaan, dan menjadi sebuah keahlian yang bisa dibanggakan.

Sekali lagi, pengalaman telah membuktikan bahwa para penulis yang pernah kami kenal hampir tidak ada yang mengaku dirinya memiliki bakat bawaan. Ketekunan dan kesabaran dalam berikhtiar merangkai kata serta kalimat adalah modal yang mesti dimiliki setiap orang yang ingin menjadi penulis. Modal ini tentu saja berlaku untuk semua penulis, baik penulis yang biasa mengirim artikelnya ke media massa maupun penulis buku. Tak jarang, untuk membakar semangat dalam belajar menulis seseorang rela mengeluarkan banyak biaya untuk mengikuti pelatihan (training) menulis atau jurnalistik.

Jika belum puas, seseorang yang ingin memiliki tulisan bagus, enak dibaca, dan sangat informatif, bahkan menyediakan biaya dan waktu membaca buku, supaya ide-ide segar bisa dikeluarkan menjadi sebuah rangkaian tulisan. Mengapa demikian? Ya, menulis memang membutuhkan sumber ide yang bisa Anda dapatkan dari mana saja: membaca buku, menganalisis peristiwa, atau mengimajinasikan pengalaman sendiri menjadi sebuah cerita. Semua yang ada dalam kehidupan kita bisa dijadikan sebagai sumber ide dalam menulis. Untuk itu, tak perlu ragu untuk memulai menulis. Anda hanya membutuhkan kesabaran dan keuletan untuk mengubah ide dalam pikiran menjadi Titah Surga bagi orang banyak.
logoblog
Previous
« Prev Post