Menulis itu Melatih Kesabaran dan Menenangkan

Seorang novelis pernah mengatakan bahwa menulis itu mampu melatik kita bersabar. Tentu saja, sebab menulis adalah usaha menuangkan perasaan (emosi) ke dalam rangkaian kata dan kalimat yang membutuhkan pemikiran mendalam dan kebijaksanaan. Amarah bisa sedikit mereda, bahkan menghilang sama sekali saat kita menorehkan tinta di atas kertas sesuai perasaan dan imajinasi saat itu. Karenanya, para ahli kejiwaan menyarankan kita untuk lebih sering menulis untuk melatih kecerdasan emosi.

Kita semua tahu, manusia adalah gudang kelemahan. Pada saat terdesak dan terkekang, perasaan marah sering kali muncul di luar nalar, tak jarang mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah yang menghadang. Hal itu berlaku hampir kepada semua orang, baik kita sebagai masyarakat biasa atau tokoh terkenal yang diagungkan sebagai pemimpin.


Kondisi semacam ini pernah dialami Buya Hamka, seorang tokoh besar muslim Indonesia, yang dikenal sebagai penulis besar pula. Suasana politik Indonesia di bawah kekuasaan Sukarno pada masa itu memang tidak bersahabat, bahkan sempat memaksa beliau masuk ke dalam jeruji penjara. Sebagai seseorang yang lahir dari keluarga muslim terpandang di Tanah Minang, Buya Hamka merasa bahwa posisinya di dalam penjara itu sangat memalukan. Beliau mengaku sempat terbersit akan mengakhiri hidup. Akan tetapi, jauh di lubuk hatinya menentang keras. Tanpa harus berpikir panjang, beliau pun mencoba menulis untuk menghilangkan amarah di dalam dada.

Teman-teman tentu akan segera tahu bagaimana perasaan Buya Hamka setelah mencoba menulis. Ya, ketenangan pun menghinggap di hati, sehingga muncullah karya monumental beliau berupa Tafsir Al-Azhar yang masih dikenal hingga saat ini. Bertahun-tahun beliau menghabiskan waktu di penjara dengan menulis dan menulis untuk menghilangkan amarah atas kebijakan politik yang tidak adil terhadap beliau. Sungguh, menulis memiliki kekuatan untuk mengubah seseorang menjadi lebih bersabar dan tenang dalam menghadapi kenyataan pahit hidup yang terkadang tak terperi.
logoblog
Previous
« Prev Post