Titah Surga

Website yang memberikan berbagai informasi tentang seluk-liku percetakan dan peberbitan, serta menawarkan pelayanan keduanya sesuai kebutuhan Anda. Silakan hubungi kami segera!

Cetakan

Tadzkiratul Auliya

Terbitan

Fihi Ma Fihi

Desain

Musyawarah Burung

Karya Syaikh Fariduddin Attar

.

Buku ini mengisahkan sebuah babak kehidupan dari masing-masing wali (sufi) berikut: Hasan dari Bashrah, Malik bin Dinar, Habib al-Ajami, Rabi’ah al-Adawiyah, dan masih banyak lagi.

Karya Maulana Jalaluddin Rumi

.

Buku ini, Fihi Ma Fihi adalah kumpulan kuliah, ceramah, percakapan dan komentarnya tentang berbagai topik yang bermacam-macam, dan memeberikan penjelasan lebih terhadap berbagai hal.

Karya Syaikh Fariduddin Attar

.

Ditulis pada abad ke-12, Musyawarah Burung adalah kisah alegori sufisme tentang perjuangan dan cobaan jiwa yang harus dihadapi seorang muslim untuk mencapai pencerahan spiritual.

"Simurgh", Raja di Hati Rakyat


Attar Neisyaburi, seorang sufi dari tanah Persia mempunyai satu risalah sastra yang berjudul "Mantiqut Thayr" yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "musyawarah burung". Dalam kitabnya itu Attar berkisah tentang para burung yang mendambakan seorang raja. Mereka menginginkan sosok yang bisa memimpin mereka, mengayomi dan melindungi mereka, yang bisa ditaati, didengarkan perintah-perintahnya demi meraih kebahagiaan serta kesempurnaan para burung.

Hudhud, salah satu begawan para burung mengatakan bahwa raja itu ada. Namanya adalah Simurgh. Sang raja bersinggasana di puncak gunung "Qaf" dan untuk sampai ke sana harus melewati tujuh lembah yang penuh dengan rintangan dan tantangan serta ujian yang sangat berat. "Kalau ingin bertemu dengan Simurgh, mari kita terbang ke sana", kata Hudhud.

Para burung berbondong-bondong berangkat menuju gunung Qaf nun jauh di sana. Ratusan burung terbang bersama. Mereka tiba di lembah pertama. Berbagai kesulitan menantang mereka sebagai ujian seberapa keteguhan mereka dalam mendambakan seorang pemimpin dan seberapa siapkah mereka menghadapi setiap rintangan demi rintangan hingga sampai ke tujuan. Banyak yang tak kuasa menghadapi angin dan badai di lembah pertama ini hingga akhirnya terpisah dari rombongan. Banyak pula yang dari awal merasa takut dan memutuskan untuk kembali.

Para burung yang lolos kini tiba di lembah berikutnya. Mereka memutuskan untuk lebih peduli terhadap sesama kawan, tolong menolong dan saling mengasihi satu sama lain agar semuanya bisa melewati. Mereka harus merapatkan barisan agar rombongan tetap utuh. Namun begitu, banyak yang tidak tahan dengan gesekan dan benturan yang terjadi hingga beberapa burung tercecer. Ada pula yang memilih berhenti terbang.

Para burung yang masih tangguh sampai di lembah ketiga. Ternyata rasa peduli itu membutuhkan kecerdasan dalam bersikap. Mereka pun berusaha untuk lebih jeli dalam meneruskan perjalanan. Setiap kepakan sayap harus benar-benar diamati. Perlu kecermatan yang lebih dalam melihat keadaan serta hubungan antar burung satu sama lain. Tetapi ternyata banyak juga yang teledor. Berpuluh-puluh burung gugur di lembah itu.

Para burung yang lolos merasa bahwa ada kemungkinan para burung yang melanjutkan perjalanan ini masih mempunyai ketergantungan terhadap hal-hal di luar urusan perjalanan menuju gunung Qaf ini. Masih ada kepentingan-kepentingan pribadi. Maka di lembah yang berikutnya mereka berusaha untuk melepas segala keinginan dan kepentingan. Tidak boleh ada ganjalan kekhawatiran tentang rumah, maupun angan-angan tentang kedudukan si sisi sang raja nanti. Akan tetapi, banyak juga yang tidak bisa melakukan hal itu. Puluhan burung dinyatakan gugur dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Sampailah mereka di lembah yang kelima. Untuk melewati rintangan yang ada, para burung itu mempererat persatuan. Mereka manunggal. Mereka yang bisa melepaskan kepentingan-kepentingan di lembah sebelumnya tadi berhasil mensucikan diri sehingga benar-benar menyatu. Dengan itu rintangan demi rintangan di lembah ini bisa dihadapi bersama. Dari ratusan burung yang berangkat awal tadi, jumlah mereka tinggal sedikit.

Di lembah keenam rintangan berupa keterpanaan. Banyak hal-hal menakjubkan yang membuat mereka terheran-heran. Mereka dibuat terlena oleh keindahan dan kemegahan yang tersaji di lembah tersebut. Kebersatuan yang lebih erat sejak lembah sebelumnya tadi pun bagi mereka sangat mengherankan. Lembah ini benar-benar membuat mereka terpana. Namun mereka tetap harus terbang.

Akhirnya mereka di lembah terakhir. Jumlah yang cuma puluhan itu adalah para burung yang telah teruji. Mereka berhasil melewati segala rintangan di setiap lembah yang dilewati dan persatuan yang kokoh di antara mereka hingga membuat masing-masing tidak bisa merasakan keberadaan diri sendiri. Mereka seperti sirna dalam diri mereka sendiri. Mereka merasa tidak ada.

Sampailah mereka di puncak gunung Qaf. Jumlah mereka tinggal 30. Kerinduan kepada sang raja telah memuncak dan ini saatnya berjumpa. Namun alangkah kagetnya ketika ternyata di puncak gunung Qaf itu tidak ada siapa-siapa. Tidak ada sosok Simurgh yang diceritakan Hudhud. Mereka pun jadi bingung.

Hudhud mengatakan bahwa memang Simurgh itu tidak ada di sini. "Tetapi Simurgh itu ada di hati kalian", ucapnya. "Ketika kalian berhasil melewati tujuh lembah dengan segala halangan dan rintangannya, ketika kalian teguh menjadi diri sendiri, ketika kalian peduli satu sama lain, saling mengasihi satu sama lain, ketika kalian benar-benar manunggal, ketika kalian melebur dalam kasih sayang antar sesama hingga tidak merasakan derita sendiri. Kalian sendirilah Simurgh itu. Hakikat kepemimpinan adalah ketika hati kalian menyatu. Pemimpin yang sejati itu adalah hati nurani kalian sendiri, adalah diri kalian sendiri. Hanya saja kalian harus melewati tujuh lembah itu agar kalian menjadi diri kalian sendiri.

Dalam bahasa Persia 'Simurgh' terdiri dari dua kata 'si' artinya tiga puluh dan 'murgh' berarti burung. Ternyata Simurgh adalah kebersamaan dari 30 burung yang berhasil melewati tujuh lembah dan sampai ke gunung Qaf. Tujuh lembah itu adalah; damba, cinta, ma'rifat, "istighna" (melepas keinginan), kemanunggalan, keterpanaan, dan yang terakhir adalah lembah fana atau kesirnaan diri. Begitu kiranya kisah yang diceritakan Attar Neisyaburi.

Bangsa ini juga mendambakan sosok seorang pemimpin untuk lima tahun yang akan datang. Perjalanan telah berakhir dan kita telah melewati beberapa lembah hingga sampai di puncaknya yang berlangsung beberapa hari lalu. Sosok yang kita dambakan itu pelan-pelan akan menampakkan diri.

Namun kita perlu hati-hati. Jangan-jangan kisah kita berlawanan dengan kisah para burung yang disebut Attar tadi. Kita perlu mawas diri, apakah kita bisa sampai di tahapan ini karena hati kita telah menyatu atau justru tercerai-berai? kalau para burung tadi adalah rakyat yang manunggal dan nyawiji, lalu di puncak gunung Qaf mereka tidak menemukan raja tetapi raja itu ditemukan di dalam hati mereka sendiri, Jangan-jangan kita merasa telah melewati tahapan-tahapan hingga sampai puncaknya lalu kita menemukan seseorang sebagai pemimpin tetapi pemimpin sejati di dalam hati kita belum terketemukan.

Betapa sia-sia perjalanan kita bila Simurgh telah kita temukan, namun ternyata 'si murgh' itu hilang, rasa kebersamaan itu hilang, kasih sayang dan kepedulian antar sesama hilang, ma'rifat kita hilang, sikap kita dipenuhi tunggangan kepentingan-kepentingan, dan puncaknya kita kehilangan jati diri kita sendiri sementara itu kita bergembira karena ada sosok yang sudah kita temukan. Simurgh itu sudah kita temukan tetapi garuda tidak di dada.

Ammar Abdillah, penulis buku Semalam Cinta Hadir; Sekumpulan Kata

logoblog

Bergerilya Menjadi Penulis


Buku Menulis ini sangatlah menarik. Power point yang biasanya untuk dipresentasikan justru dibukukan. Hal ini sangat membantu pembaca dalam memahami sesuatu dengan cepat.  Sangat menarik.

--- Saidi, Ketua APPI ---

-----------------------------------------

Siswa dan santri  bingung karena selalu kalah dalam lomba karya ilmiah, mahasiswa bingung menerbitkan buku, dan guru kesulitan memenuhi angka kredit Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Buku ini memberi solusi. Di dalam buku ini diawali dengan teori menulis, bagaimana cara menulis, dan syarat menjadi seorang penulis. Uraian di bagian awal buku ini bisa memberi motivasi kepada siswa, santri, mahasiswa, dan guru untuk menjadi seorang penulis.

Setelah pembaca termotivasi, buku ini memberi penjelasan secara rinci beserta contoh masing-masing jenis tulisan, baik tulisan sastra maupun nonsastra. Bentuk tulisan sastra yang disajikan adalah menulis puisi dan menulis cerpen/novel. Sementara itu, tulisan nonsastra meliputi teknik menulis artikel ilmiah dan populer, berita, esai, resensi buku, dan menulis PTK. Buku ini juga memberi petunjuk kepada guru tentang hal-hal yang berhubungan dengan kenaikan pangkat.

Buku ini dapat membantu siswa, santri, mahasiswa, dan guru untuk menjadi seorang penulis yang sekaligus mempublikasikannya. Buku ini juga memuat contoh-contoh jenis tulisan disajikan secara lengkap dan disertai penjelasannya. Yang lebih menarik lagi, buku ini berisi power point, bukan uraian yang membuat pembaca bosan.


Judul : Bergerilya Menjadi Penulis; Panduan Praktis dan Strategis untuk Siswa, Santri, Mahasiswa, dan Guru
Penulis : Dr. Imron Rosidi, M.Pd.
Ukuran : 150 mm x 230 mm
Tebal : viii + 315 halaman

logoblog

Fihi Ma Fihi: Isyarat-Isyarat Gaib


Barangkali tidak ada yang mampu menggabungkan kualitas guru spiritual dan jenius sastra ke tingkat yang lebih tinggi daripada Jalaluddin Rumi (1207 - 1273). Matsnawi-nya adalah salah satu kitab yang paling muktabar dan dihormati dalam Islam.

Buku ini, Fihi Ma Fihi adalah kumpulan kuliah, ceramah, percakapan dan komentarnya tentang berbagai topik yang bermacam-macam. Dalam banyak kasus, diskusi yang ditampilkan dalam buku ini memberi kita penjelasan terperinci yang paling berkelanjutan tentang pemikirannya atas topik tertentu.

Bahkan dalam percakapan, Rumi mengungkapkan wawasan spiritualnya dengan gaya yang kaya bahasa sindiran dan kiasan, dan sering diilustrasikan dengan penceritaan yang mahir. Tema-temanya meliputi keagungan dan kemurahan hati Tuhan seperti yang diungkapkan melalui hal-hal baik di bumi; rangkaian kesatuan antara bentuk dan hakikat; di sini dan di akhirat; pencairan individualitas dalam realitas ketunggalan Allah; dan sentralitas cinta dalam perkembangan ruh.

Judul: Fihi Ma Fihi: Isyarat-Isyarat Gaib
Penulis: Jalaluddin Rumi
Penerbit: Titah Surga, 2018
Tebal: 342 halaman (Ukuran B5)

Harga: Rp. 85.000 (blm ongkir)
Order: WA 081227809910
logoblog

10 Tahun Rumah Parenting MUTIF


Meski setiap hari orang tua bersama anak, tetapi tidak semua bisa memahami perasaan dan pola pikirnya. Hampir dipastikan secara umum orang tua tidak bisa memahami perbedaan karakter dasar anak dengan orang dewasa. Pikiran sempit, egois, tidak masuk akal, tidak pernah masuk ke ranah pikiran orang tua suatu hal yang wajar. Sehingga ketika anak berpendapat yang menurutnya aneh, konyol dan keliru langsung dianggap kekeliruan yang disengaja.

Bagi orang tua yang menyadari kekeliruan di atas akan rela bersusah payah menggali pengetahuan dari manapun datangnya termasuk televisi, seminar, radio bahkan dari Rumah Parenting. Pengalaman nyata bersama anak sehari-hari dijadikan eksperimen dan kesempatan mempraktikkan ilmu yang didapat. Kepekaan diasah, kreatifitas komunikasi dengan anak dipertajam. Oleh karena itulah, buku di tangan pembaca ini ada.

Buku ini merupakah rangkuman dari semua ikhtiar dalam membangun Rumah Parenting yang memfasilitasi orang tua memahami segala sesuatu kebutuhan yang berkaitan dengan proses pembelajaran siswa. Di tengah kesalahpahaman terhadap peran-peran parenting penulis bersama stakeholder mencoba mengubah berbagai budaya yang dirasa membebani siswa.

Judul: Sepuluh Tahun Rumah Parenting Mutif
Penulis: Samsul Muarief
Penerbit: Titah Surga, 2018
Tebal: x + 110 hlm
Ukuran: 130 x 200 mm

logoblog

Bunga Terakhir di Ujung Pintu


Sebelum lelaki itu benar-benar pergi ke suatu tempat, antara kamu dan dirinya menjadi suatu hal yang mustahil. Lelaki itu menolak saat kamu hendak memeluknya, kamu paham. Paham kalau ada cincin emas pertunangan di jari manismu. Kamu sudah milik orang lain. Bukan lelaki itu.

“Cintaku seperti bunga terakhir itu!” teriak lelaki itu sambil melambaikan tangan di jendela bus yang mulai perlahan meninggalkan terminal sambil melepas senyumannya yang terakhir kali. Kamu suka dengan sifat lelaki itu yang selalu ceria, menganggap semuanya akan baik-baik saja_Bunga Terakhir.

Buku ini adalah kumpulan cerpen karya seorang santri Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam antologi cerpen ini, banyak kisah inspiratif, kisah cinta, dan motivasi yang dapat kita ambil sebagai pelajaran kehidupan. 

Judul: Bunga Terakhir di Ujung Pintu (Antologi Puisi)
Penulis: Kalamullah
Penerbit: Titah Surga 2017
Tebal: vi + 130 hlm
Ukuran: 130 x 200 mm
logoblog

Jihad Literasi



Buku berjudul Jihad Literasi, berkisah mengenai gerakan literasi dalam bentuk paling populis, yakni komunitas. Terdapat dua model gerakan literasi di Indonesia, yang pertama menggunakan model perpustakaan informal seperti Taman Baca Masyarakat (TBM). Kedua, menggunakan model komunitas atau kolektif. Dua jenis model gerakan literasi ini sebenarnya juga diselingi oleh kehadiran jenis gerakan literasi lainnya yang digerakkan oleh individu-individu.

Buku Jihad Literasi membahas mengenai gerakan literasi model komunitas. Bagaimana komunitas literasi mengembangkan gerakannya? Bagaimana cara komunitas literasi menemukan kreatifitasnya? Dua pertanyaan inilah pertanyaan yang akan dijawab. 

Karya Fauzan ini adalah ilustrasi hidup dan dinamika komunitas yang ditulis ‘tanpa beban’. Gaya bebasnya menjadi ciri khas yang berpesan bahwa seseorang harus dan bisa keluar dari ortodoksi tulisan yang bisa saja jatuh pada model gaya menulis profil yang lebay dan hiperealitas. Sajian khas ala kehidupan sehari-hari di lingkungan komunitas khususnya di RBK yang sedang mengamalkan cara hidup apresiatif.

Di dalam tindakan-tindakan kecil apresiatif beberapa hal yang telah disajikan secara maknawi dalam ilustrasi Fauzan sangat mewakilinya seperti bagaimana pikiran adil, menghargai perbedaan, melakukan tindakan kecil kebaikan, berbagi, dan bergaul dengan siapa saja untuk memberikan kekuatan pada aktifitas sosial keseharian. Tindakan-tindakan positif yang berdaya tahan bukan hanya menjadi kekuatan revolutif, tetapi juga sebagai bentuk pertahanan dari gilasan sejarah ‘kebusukan’ kapitalisme dan segala pirantinya. Tentu kita tak perlu menghabiskan energi untuk mengutuk tetapi hal-hal kecil yang diperjuangkan sehari-hari untuk menambah mashlahat hidup bersama adalah upaya nyata untuk menyalakan api—di saat yang sama adalah merencanakan tatanan hidup yang adil sejak dalam pikiran.
logoblog

Semalam Cinta Hadir (Sehimpunan Kata)

 

Membaca buku puisi Ammar Abdillah yang berjudul Semalam Cinta Hadir, saya segera teringat pada Ghiyãtsuddin Abulfatah 'Umar bin Ibrahim Khayyãmi Nisyãbūri. Bukan kebetulan jika Rumi kecil pernah singgah di Nishapur, kota kelahiran Umar bin Ibrahim Khayyãmi atau yang termasyur dengan nama Umar Khayyam itu. Dan, bukan kebetulan pula jika budaya Persia layak diduga menanam pengaruh besar pada diri Ammar Abdillah, terutama dalam hal menulis puisi.

Perjalanan terjauh sesungguhnya adalah perjalanan menuju yang terdekat dengan diri, yakni diri sendiri. Dan, sebagaimana Hamzah Fansuri, mula perjalanan Ammar Abdillah adalah menempuh jarak dengan "sang ia" hingga pada akhirnya Ammar Abdillah tersadar bahwa,"Kini aku adalah cinta". Tatkala dia bersyair,"Mulutku hanya bisa berkata lirih, wahai dia, wahai dia," secepat kilat saya teringat pada ucapan mistis Khidr Alaihi 's-Salam, "ya man huwa, huwa ya man."
- Candra Malik, Sastrawan Sufi

Kehidupan Ammar Abdillah dalam bahasa Arab dan Persia, bahasa dengan tradisi syair yang kaya, memakmurkan cinta dan bahasa Indonesia.
- Sujiwo Tejo, Budayawan

"Mevlana Rumi" of this century, Ammar Abdillah, with his poetry and artworks, wonderfully exposes the fire of love burning so passionately in his own heart. For anyone looking to inspire their own heart, whether alone on a rainy day, or amongst the circle of lovers, this is a perfect source inspiring that unconditional love.
- Mustafa Daood, Musisi Sufi

Membaca “Semalam Cinta Hadir” karya Ammar Abdillah ini musti menggunakan mata yang lain. Di situ kita akan larut merasakan penderitaan yang bersinggasana dalam luka dan di ujung hati, kita akan menemukan Tuhan bermahkota.
- Kiai Budi Harjono, Budayawan

Dengan menulis sehimpunan kata “Semalam Cinta Hadir” ini, saya menemukan Ammar Abdillah sedang bekerja melipatgandakan cinta, dan dari situ nampak bahwa Cinta dalam buku ini bertanggung-jawab atas air mata manusia.
- Usman Arrumy, Penyair Indonesia

Rp 50.000,-
Order Buku Ini, WA: 081227809910

Judul: Semalam Cinta Hadir (Sehimpunan Kata)
Penulis: Ammar Abdillah
Penerbit: Titah Surga, 2017
Tebal: 105 halaman
logoblog

Yang Maha Membaca (Antologi Puisi)

 

Apsas (Apresiasi Seni Sastra) merupakan konsep pentas seni yang berbeda, terkadang spontan, tak direncanakan, dan hampir selalu berangkat dari kegelisahan mendadak. Tidak jarang dimulai duduk diskusi tiba-tiba bergerak untuk mendisain “panggung”. Kain-kain tipis berwarna hitam atau merah mereka ambil. Proses dekorasi “panggung” terlalu antusias. Masing-masing tergerak untuk menambah bagian-bagian yang diperlukan suka-suka.

Apsas tampaknya telah menjadi cara hidup pegiat RBK (Rumah Baca Komunitas). Melewati diskusi yang panjang terkadang membuat mereka tergelitik untuk membuat manifestasinya lewat seni, sastra, atau tampilan budaya. Apa yang disebut sebagai “panggung” dalam Apsas pun sebenarnya terdiri atas satu kursi, beberapa kain yang disulap menjadi latar, dan lampu dengan cahaya kuning. Kadang-kadang juga meja disulap menjadi tempat duduk. Hal itu menjadikan panggung seperti “milik bersama”, itu yang memunculkan istilah “berkreasi suka-suka”. Para pegiat juga mempersiapkan puisi untuk pentas, dan kamera sebagai salah-satu alat penting untuk mengabadikan proses unik tersebut.

Melalui Apsas, RBK menuju jembatan perjuangan yang lain. Kesadaran bahwa manusia membutuhkan seni, menjadi jalan pegiat RBK untuk mengapresiasi alam semesta. “Kita tidak bisa mencintai manusia jika tidak mencintai alam”. Melalui seni pegiat RBK diajak untuk sensitif terhadap rasa kemanusiaan mereka. Saat membaca puisi Wiji Thukul, WS Rendra, Taufik Ismail. Atau saat menikmati novel Pramoedya Ananta Toer, Hamka, Luis Sepulveda.

Belantara kehidupan manusia dan alam seperti terhampar serta menggugah kesadaran. Kesadaran terhadap perbaikan relasi antara manusia dan alam seperti terbuka dengan sendirinya. Perlahan tapi pasti, seperti melibatkan alam semesta dalam setiap horison pemikiran lalu muncullah istilah Ekoliterasi.
logoblog

Matsnawi Maulana Jalaluddin Rumi


Matsnawi diakui secara luas sebagai puisi sufi terbesar yang pernah ditulis, dan bahkan disebut “Al-Qur’an dalam bahasa Persia.” Sufi abad ketiga belas, Jalaluddin Rumi, mengarang karyanya ini untuk kepentingan murid-muridnya dalam tarekat bernama Maulawiyah, yang lebih dikenal sebagai darwisy berputar. Dalam rangka menyampaikan pesan tentang cinta dan kesatuan ilahi yang ia untai bersama dengan cerita menghibur dan khotbah-khotbah tajam. Menggambarkan cerita rakyat serta sejarah suci, puisi-puisi Rumi seringkali jenaka serta mendalam secara ruhani.

Inilah salah satu karya paling terkenal dan paling berpengaruh dalam tasawuf dan sastra. Tulisan spiritual yang mengajarkan sufi bagaimana mencapai tujuan mereka berada dalam cinta sejati bersama Allah. Ini adalah seni puitis di mana Rumi membuat tulisannya berlapis-lapis. Misalnya, ia mulai sebuah cerita, lalu pindah ke satu cerita lain dalam cerita itu, dan bergerak lagi ke cerita lain dalam cerita itu. Melalui gaya komposisi ini, suara pribadi Rumi menembus ke pembacanya. Matsnawi tidak memiliki plot berbingkai. Nadanya mencakup berbagai adegan meliputi cerita populer dari pasar lokal sampai dongeng dan cerita di zaman Rumi hidup termasuk kutipan ayat Al-Qur’an dan sunah Rasul.


Rp 62.000,-

Order Buku Ini, WA: 081227809910

Judul: Matsnawi
Penulis: Maulana Jalaluddin Rumi
Penerbit: Titah Surga, 2017
Tebal: xxviii + 214 hlm
logoblog

Taman Pembaca


Kisah-kisah dan nasihat tentang pengalaman kehidupan selalu menjadi daya tarik magnetik bagi kebanyakan orang. Meskipun berbentuk kalimat pendek, kita seing terpukau, bahkan sampai mematri di dalam pikiran. Tak jarang dia menjadi semacam tuntunan bagi komunitas yang anggotanya memiliki ide atau gagasan sama tentang nasihat atau kisah tertentu.

Buku ini merupakan kumpulan kisah, nasihat, dan kalimat mutiara yang disajikan secara berkala di rubrik hadiqatu al-qari`, majalah terbitan kementerian haji Saudi Arabia, yang diambil secara acak tahun penerbitannya, dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Bagi mereka yang tidak memahami bahasa Arab, dengan hadirnya buku ini diharapkan bisa menikmati sajian kisah, nasihat dan kalimat mutiara ala Timur Tengah. Semoga kita bisa memetik hikmah dan pelajaran yang tertuang dalam buku kecil ini.


Judul: Taman Pembaca
Penulis: Yusroh
Penerbit: Titah Surga, 2017
Tebal: viii + 112 hlm
logoblog

Menerbitkan Kisah Perjuangan Bisnis

Seorang teman bertemu di sebuah toko buku. Sebut saja namanya Rozak. Sudah beberapa tahun kami tak pernah bertemu. Aku kira dia sudah tidak di kota yang sama. Dia sedang mencari buku-buku yang bergenre kisah perjuangan. Lama sekali dia mencari tema yang pas dan pantas dengan kisah yang akan ditulisnya. Cerita ini aku ketahui dari istrinya, yang sebelumnya sudah bertemu denganku di pasar tradisional, saat aku mencari tanaman serai untuk obat reumatik seorang teman. Karena penasaran dengan semangat pencarian Rozak, aku mencoba mendekatinya lagi, dan menanyakan tentang buku-buku yang dicari.

“Aku mencari buku yang menceritakan tentang kisah perjuangan, terutama yang berkaitan dengan perjuangan mendirikan kerajaan bisnis,” jawab Rozak yang tidak menutupi keinginannya.

“Wah, rupanya kamu sudah mencapai sukses ya? Selamat ya!” Aku pun mengulurkan untuk menjabat tangannya.

“He…, he…, bukan aku yang telah sukses, Kawan!” Jawab Rozak sambil memegang pundakku, “Aku hanya mau membantu kawan kita, Si Amru, yang kini tinggal di Kalimantan. Dia telah sukses mengembangkan bisnisnya, yang dia lakukan sejak masih kuliah dulu. Aku diminta olehnya untuk menuliskan kisah perjuangannya dalam membangun kerajaan bisnisnya.”

“Lho, berarti aku salah paham dengan ucapan istrimu. Aku bertemu dengan istrimu di pasar tadi pagi. Aku kira, kamu akan menulis kisah bisnismu sendiri,” aku mencoba meyakinkan diri.

“Wah, aku tidak berbakat menjadi pengusaha, Kawan. Aku hanya penulis lepas di beberapa penerbit, dan kadang-kadang di surat kabar,” Rozak mencoba merendah.

“Ah…, itu sangat istimewa, Kawan. Aku justru tak mampu menjalankan tugas seberat itu. Aku hanya membuka usaha penerbitan kecil-kecilan di rumah. Kalau ada waktu, mainlah ke rumah,” ajakku kepada Rozak.

“Baiklah, aku pasti akan datang ke rumahmu. Sekalian mau minta tolong terbitkan buku Amru yang sedang proses penyelesaian ini,” Rozak memperlihatkan sebuah print out naskah mentah.

“Oke, siap! Aku tunggu kau di rumah, kapan saja! Kau bisa hubungi aku di sini,” jawabku, sambil menyodorkan kartu nama kepada Rozak.

Hampir dua minggu kemudian, Rozak pun datang ke rumah. Dia menyodorkan file naskah yang dijanjikan kepadaku, dan memintaku mengurus semua kebutuhan penerbitan buku itu. Ternyata, beberapa menit kemudian, Bos Amru menelponku, menanyakan berapa dana yang dibutuhkan untuk menerbitkan buku tersebut. Kami pun membicarakan hal itu secara kekeluargaan dan didengar langsung oleh Rozak, si penulis yang juga dijanjikan honor oleh Bos Amru.
logoblog

Kematian Al-Hallaj; Sebuah Kisah Dramatis


Al-Hallaj adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah sufisme. Pada tahun 922 M ia dihukum mati oleh pemerintahan saat itu karena ajarannya dianggap sesat. Hallaj hidup selama berabad-abad dalam legenda dan kenangan umat muslim di seluruh dunia. Dalam narasi dramatis hari-hari terakhir Hallaj ini, putranya, Hamid bin Hallaj, menyaring inti pemikirannya dalam adegan bergerak yang dikisahkan dengan indah.

Karya ini merupakan bacaan menyegarkan yang menawarkan beberapa gagasan Hallaj tanpa harus terjebak menjadi materi ilmiah yang kering dan membosankan. Buku ini tidak meriwayatkan hidup Hallaj secara kronologis atau menyediakan data-data teknis terkait kehidupannya, tetapi menunjukkan kepada kita sebuah drama yang sangat mudah dicerna sehingga membawa kita terasa dekat dengan Hallaj dan keyakinan-keyakinannya.

 
Rp 40.000,-

Order Buku Ini WA: 081227809910

Judul: Kematian Al-Hallaj; Sebuah Kisah Dramatis
Penulis: Hamid bin Al-Hallaj
Penerbit: Titah Surga, 2016
Ukuran: 120 mm x 185 mm
Tebal: x + 90 Halaman
logoblog

Risalah-risalah Mistis


Risalah-risalah Mistis yang tersaji dalam buku ini adalah bagian penting dari warisan tasawuf. Berbagai kisah yang mirip fabel-fabel ini memiliki makna yang mendalam, bahkan mencerahkan bagi pembaca, khususnya para pejalan sufi. Syaikh Suhrawardi mengajak kita untuk memahami makrokosmos (jagad besar) dan mikrokosmos (jagad kecil) melalui tokoh-tokoh fiktif yang diciptakan untuk menampung berbagai kandungan makna yang sangat kaya dan membangkitkan imajinasi.

Dalam buku ini, Syaikh Al-Isyraq meracik dongeng yang mencampurkan nama-nama tokoh khayalan dengan tokoh non-fiksi, yang sebagian adalah pahlawan dan para sufi. Kita diterbangkan untuk mengarungi negeri Nakuja Abad (Negeri Antah-Berantah) serta dikenalkan dengan simbol-simbol yang memancarkan makna pencerahan bagi mereka yang dibuka kalbunya.

Rp 55.000,-

Order Buku Ini, WA: 081227809910

Judul: Risalah-risalah Mistis
Penulis: Syaikh Suhrawardi (Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi)
Penerbit: Titah Surga, 2016
Tebal: 198 halaman
logoblog

Terbitkan Tesis dan Disertasi Jadi Buku


Di tengah kemajuan dunia, tingkat kebutuhan pendidikan pun sangat meningkat. Target pendidikan masyarakat kita saat ini bukan hanya sarjana, tetapi sudah meningkat ke pascasarjana. Standar kompetensi kepegawaiannya pun, ternyata ikut menuntut masyarakat untuk meningkatkan kebutuhan pendidikannya. Karenanya, menjamurlah berbagai jurusan pascasarjana di berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Dengan begitu, pengalaman riset dan menulis pun meningkat secara drastic dan dramatis, sebab kita dipaksa untuk menjadi mahasiswa yang memiliki kualitas di atas rata-rata seorang sarjana.

Tugas pembuatan makalah maupun proposal penelitian pun bertambah. Hal ini tentu saja sangat menunjang latihan atau persiapan memenuhi kewajiban seorang mahasiswa pascasarjana, yaitu menulis tesis maupun disertasi bagi yang menginjak program doctoral. Kesibukan di luar tugas pekerjaan sehari-hari pun menjadi bertambah, yaitu lebih rajin ke perpustakaan, minimal untuk menambah referensi keilmuan yang dibutuhkan, sesuai jurusan yang dipilih.

Pekerjaan menyelesaikan tesis mapun disertasi tentu menghabiskan tenaga dan biaya. Akan tetapi, tidak banyak yang berpikir bahwa setelah selesai mengerjakan salah satu atau keduanya, kita dapat mempublikasikannya menjadi sebuah buku yang dapat dibaca oleh khalayak ramai. Ya, semestinya kita sudah mulai memikirkan cara menerbitkan tesis dan disertasi, sehingga seakan-akan hanya bisa dibaca oleh mahasiswa angkatan sesudah kita.

Memang benar, telah banyak buku yang terbit dari hasil olahan sebuah tesis atau disertasi. Akan tetapi, kebanyakan penerbit hanya mau mempublikasikan tema-tema yang dianggap memiliki pasar. Padahal, sebenarnya banyak masyarakat kita yang juga membutuhkan bacaan berkualitas semisal tesis dan disertasi.

Lalu, bagaimana sebenarnya menerbitkan tesis atau disertasi? Kita bisa menerbitkan tesis atau disertasi sendiri. Dengan kata lain menggunakan biaya sendiri melalui model Publishing on Demand. Penerbitan buku model ini tidak perlu melakukan cetak hingga ribuan eksemplar. Kita bisa mencetak buku hanya dengan puluhan atau ratusan eksemplar. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk promosi awal atau contoh yang akan ditawarkan kepada pembeli, termasuk perpustakaan-perpustakaan. Jika permintaan ternyata lumayan tinggi, kita bisa melakukan cetak ulang.

Model menerbitkan semacam ini tentu lebih mudah dan lebih kecil resikonya, sebab kita bisa memantau sendiri penjualan buku kita. Untuk memasarkannya, kita bisa memanfaatkan internet, terutama melalui jejering sosial atau blog pribadi, jika memiliki. Untuk mengetahui model Publishing on Demand, silakan kunjungi halaman berikut: Publishing on Demand.
logoblog